MANTRA AJI SURYOBENGGOLO KEBAL BACOK

Namun, satu hal yang tidak bisa dilanggar, yakni para laku ajian ini tidak bisa memanfaatkan keampuannya untuk tujuan tidak benar. Tulah yang bakal dihadapi orang yang menyalahgunakan sangat berat. Bisa-bisa dirinya akan celaka sendiri. Salah satu misalnya, tidak boleh digunakan untuk menantang orang, atau menumbuhkan bibit permusuhan.
Adapun cara mendapatkan ajian ini para laku lebih dulu menjalani prosesi ritual pengukuhan ajian. Cukup merapalkan mantera yang sudah diciptakan para pertapa jaman lampau. Diteruskan dengan laku puasa dan pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar. Dilanggar berarti ajian akan hancur binasa. Mantera ajian kekebalan Suryobenggolo berikut ini;
“Ingsun kawulaning Allah, kang matek soko suryobenggolo. Bukiyad angambah jagad walikan, langgeng tan kenaning owah huyahu, huyahu, huyahu sallahu alaihi wassalam. Dzating suci ing sahudaya, ratuning sadatullah Ingsun lanang sejati kang tan pasah sakehing tumumpang. Ampang ngalumpruk kadi tibaning kapuk, yahu jabardas. Bar tan tedhas ing keris slumen lan sakehing gegaman kabeh”
Prosesi laku secara keseluruhan melalui beberapa tahapan yang harus dipatuhi. Mulai dari larangan terhadap rasa makanan, laku puasa hingga waktu melaksanakan ritual tertentu. Soal larang rasa adalah para laku ajian tidak diperbolehkan memakan garam dan makan-makan yang rasa asin selama 40 hari. Larangan ini sangat penting karena berhungan langsung dengan rasa dan patirasa.
Dilanjutkan melakukan puasa mutih selama 3 hari 3 malam. Selama menjalani puasa ini agar ajian cepat merasuk dan meraga dalam diri, para laku sebaiknya melengkapi dengan menjaga sikap dan perilaku yang mengundang emosi. Tetap merendah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta Alam. Tahapan selanjutnya melakukan puasa patigeni selama 1 hari 1 malam.
Laku patigeni harus memperhatikan waktu yang tepat. Waktu yang memiliki kekeramat tinggi. Cocok dengan laku ajian yang mengandalkan kekuatan gaib dan energi dalam diri. Yakni, dimulai pada hari Kamis Wage dengan diawali mandi sekujur badan (mandi besar, red). Barulah kemudian mantera yang tersebut di atas dibaca pada saat menghadapi musuh (marabahaya), atau pada saat berperang.
Ismu Gunting dengan Puasa Kenahat
Pada jaman para jagabaya (penjaga keamanan) banyak difungsikan untuk menjaga keamanan di suatu wilayah, ada satu ilmu kadigdayaan yang amat dikenal ampuh. Tidak lain sebagai bekal para jagabaya saat menjalankan tugas. Ajian ini pernah dilakoni para jagabaya yang dipersiapkan untuk menjaga perkampungan di daerah Batu Raden, Purwokerto. Namanya, ajian Ismu Gunting. Bagaimana laku ajian kadigdayaan tersebut?
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Purwokerto, pada tahun 1950-an ada segerombolan perampok yang sangat bengis. Mereka bukan hanya mengambil harta benda milik penduduk, tetapi juga memperkosa dan membunuh penduduk yang berani menentang perintahnya. Tidak segan warga diminta menyerahkan harta, dan harus menyetor pajak setiap minggu.
Karena perilaku mereka sudah keterlaluan maka jagabaya (keamanan desa) disertai dengan seorang pendekar melakukan penyerangan pada perampok yang bermarkas di tengah hutan (kawasan lereng gunung Slamet) tersebut. Melalui pertempuran yang sengit, akhirnya perampok itu tewas dengan dada yang membiru. Sepertinya dada mereka remuk redam. Ajian apa yang dipakai para jagabaya itu?
Konon, pukulan ajian ini dapat meremukkan dada musuh. Musuh tidak menyingkir atau tidak melapisi dengan kekebalan ilmu lain dipastikan akan binasa dalam waktu singkat. Sebab, reaksi ajian Ismu Gunting dikenal sangat cepat dan tidak perlu menunggu pelaku mengumpulkan tenaga dalam terlebih dahulu. Karena itu, si pelaku ajian tidak diperkenankan sembarangan orang menggunakannya.
Ajian diciptakan oleh salah seorang pertama tua yang dulunya sering muncul di sekitar kawasan lokasi wisata Baturraden, Purwokerto. Lantas diamalkan ke beberapa orang murid yang dia percayai. Tujuan dia mencipta ajian ini untuk mengatasi orang-orang yang berlaku jahat dan tidak punya batas kemanusiaan.
Kabar menarik lain, ilmu ini selanjutnya dikuasai oleh para jagabaya dengan cara mudah. Tidak ada persyaratan yang menyulitkan, termasuk dalam hal menghafal mantera-manteranya. Adapun bunyi mantera ajian Ismu Gunting yang biasa diajarkan, sebagai berikut ini; “Ya hu, Jabardis jabardis, Bar tatas keris Sulaiman, Dikaya kerismu, Ngaku landepe tangan kita. Ya hu, Alluhuma banas banas, La khaula wa la kauwata, Illabilahil aliyil alim”.
Laku selanjutnya cukup gampang. Cukup menjalankan puasa kenahat selama 40 hari 40 malam. Puasa kenahat adalah puasa dengan cara sekali makan dalam sehari semalam. Tidak boleh lebih. Namun dengan ketentuan yang harus dipatuhi, yakni selama puasa waktu yang dipakai saat makan harus sama.
Selama menjalankan puasa dan tirakatan ini, pelaku ajian harus membaca mantera tersebut di atas sebanyak kurang lebih 15 kali. Lebih banyak mengamalkan lafalan mantera konon kekuatan ilmu yang didapat semakin bertambah tinggi. Waktu dibutuhkan saat proses peralihan kekuatan ke dalam tubuh pun semakin cepat.

Untuk Konsultasi dan Pemesanan Hubungi Langsung Pastikan Anda Mendapatkan Layanan Yang Tepat Bersama Kami Tinggal Hubungi saja Kami akan Selalu siap Melayani Dengan Setulus Hati.WAJIB DIBACA HIMBAUAN DARI ABAH KATONRAHYU

Bicara soal toko online tidak bisa lepas dari fenomena penipuan toko online yang marak sekarang ini. Penipuan ini semakin menjamur dan terjadi setiap jam, setiap menit bahkan mungkin setiap detik sudah melebihi jamur sungguhan yang cuma muncul di musim hujanKecepatan dan jaminan 100 persen barang sampai ditempat tujuan Moto abah Katon Rahayu dalam melayani pembeli adalah salah satu faktor yang menentukan dalam hal kualitas pelayanan Saran Dari Abah Katon Rahayu harap waspada terhadap Toko Online, yang menawarkan barang dengan harga murah di bawah harga standar, karena itu adalah salah satu Modus penipuan. jadi teliti dulu sebelum membeli dan Perhatikan dari segi kualitas barang yang ada diblog dan jumlah produk yang di tawarkan penjual yang asli memiliki lebih dari banyak macam produk dan bukan hanya cuma satu atau lima buah.